Short Story: Bunga Sakuraku
BUNGA SAKURAKU
Aku merindukanmu dari musim ke musim.
Layaknya menanti musim semi datang membawa bunga sakura yang bermekaran
Hingga rasa berat menggelayuti untuk tidak pergi begitu saja
Musim demi musim yang kulewati menawarkan suasana baru
Menyapaku setiap paginya dengan pesan yang dibawa oleh kawanan burung
Kepada musim-musim:
Rasa rinduku tak kan pernah menguap oleh panasnya musim panas
Tidak akan gugur seperti daun daun di musim gugur
Juga tidak akan tamat oleh dinginnya musim dingin
Bagiku, kaulah musim semiku
Bagiku, kaulah sakuraku
🌸
Musim semi yang kutunggu masih sama dengan musim semi sebelumnya. Dimana jalan-jalan di daerah Yoshino dipenuhi warna merah muda di kanan dan kirinya. Dimana kelopak-kelopak sakura berterbangan dibawa angin dan orang-orang merayakan Hanami bersama.
Gunung Yoshino masih menjadi tempat favoritku menikmati musim semi. Keindahan panorama yang dibalut oleh pohon-pohon sakura tidak ada duanya.
Dari jendela bus ini aku bisa melihat kelopak-kelopak bunga sakura yang berjatuhan, pikiranku mengikutinya entah kemana.
Bersama penumpang lain, aku menuju Oku-senbon yaitu puncak dari Gunung Yoshino. Semakin ke puncak, semakin sepi pula pengunjung, semakin sedikit pula pohon sakura.
Aku teringat musim semi tahun lalu ketika aku bersama Sakura-chan. Ia tak pernah lepas dari kamera yang selalu ia gantungkan di lehernya.
Aku juga masih ingat betul suara Sakura-chan ketika memanggilku Yo-chan... Yo-chan dengan lantangnya. Atau ketika ia terus-terusan memotretku sejelek apapun ekspresiku.
Aku merindukannya.
Walapun musim semi, udara terasa dingin walau tak sedingin saat bulan Januari. Jadi, aku pun merapatkan jaket saat tiba di dek observasi Takagiyama, dari sini pengunjung disuguhkan dengan pemandangan indah dari hamparan warna merah muda yang menyelimuti lereng gunung. Aku bisa memotret dari spot manapun, karena semuanya terlihat indah.
Satupun momen tak ingin kulewatkan dengan bantuan jepretan kamera ini. Kamera yang sama yang digunakan Sakura-chan. Kamera ini jadi milikku sekarang.
Sembari perjalanan menuruni gunung menuju Kami-senbon, aku melihat hasil jepretan yang kuambil selama perjalanan. Memang, aku tidak sejago Sakura-chan saat memotret pemandangan, tetapi kupikir juga sudah lumayan.
Dulu, aku dan sakura chan pernah berdoa di kuil Yoshino Mikumari bersama. Kini aku hanya seorang diri ketika membunyikan lonceng dan berdoa di depan kuil. Berharap Kami-sama memberikan keajaiban.
Setelahnya aku duduk di bangku bawah pohon sambil meluruskan kaki sejenak dan menyegarkan tenggorokan dengan sebotol air yang kubawa dari rumah.
Di kuil ini ada taman bunga sakura yang menjadi spot terbaik menikmati keindahannya. Tak pelak, Suasana ini membuatku nyaman sampai-sampai rasa kantuk menyergapku.
"Yo-chan... Yo-chan. Bangun." sayup-sayup kudengar suara Sakura-chan. Terdengar nyata walau tercampur dengan suara pohon-pohon yang beradu dengan angin.
"Sakura-chan?" aku memastikan suara itu. Lalu kuputuskan menyapu pandang ke sekitar. Suara itu berasal dari deretan pohon sakura di depanku.
"Yo-chan, kau senang sekali tidur dimanapun. Ayolah bangun, aku ingin memotret lebih banyak lagi." Suara Sakura-chan terdengar kembali, aku memasang telinga dan mataku sebaik mungkin untuk memastikan keberadaan Sakura- chan.
Sosok Sakura-chan dengan dress putih muncul dari belakang salah satu pohon sakura di sana. Ia berjalan pelan ke arahku sembari menatapku yang bergeming.
"Yo-chan apa kau merindukanku?" tanyanya dengan senyum cerah.
Tentu saja aku merindukannya, tetapi mulutku malah tak bisa berucap apapun barangkali menyebut namanya. Akhirnya, aku hanya mengangguk.
"Hari ini hari keberuntunganmu, Yo-chan. Satu kesempatan lagi untuk kita bersama."
"Kesempatan?"
Sejurus dengan pertanyaanku, angin berhembus melewati deretan pohon Sakura. Membuat mereka bergoyang ke kanan dan ke kiri menimbulkan suara. Bersamaan dengan itu kelopak kelopak sakura berjatuhan dengan rimbun menghujani Sakura-chan di bawahnya.
"Kau dengar pohon-pohon sakura itu? Anggap saja aku jelmaannya. Ini adalah kesempatan yang diberikan oleh Kami-sama."
Otakku tengah lambat mencerna tentang apa yang kulihat dan kudengar saat ini. Entah karena baru bangun tidur atau karena aku tak percaya dengan yang kulihat, apakah nyata atau tidak. Cukup membuat kepalaku berdenyut beberapa menit setelahnya.
"Yo-chan, lihat kemari."
Aku pun melihat ke arahnya. Salah satu kebiasaan Sakura-chan adalah menjahiliku dengan menjulurkan lidahnya seperti yang dilakukannya sekarang. Ia pun berlari sembari sesekali menengok ke arahku sambil tertawa lepas. Aku pun mengikutinya saja, berlari kecil mengejarnya.
Rasa yang tercipta berkat kehadiran Sakura-chan --yang entah nyata atau tidak-- menimbulkan kegaduhan di benak dan pikiranku, seakan berdebat. Tanda tanya saling tumpang tindih menunggu kucerna satu per satu. Akan tetapi, satu hal yang pasti, kerinduanku mulai terbayar.
Tidak terasa kami telah sampai di area Naka-senbon. Banyak sekali restoran di sini yang menjajakan makanan tradisional. Kini Sakura- chan berhenti di salah satu toko kecil yang menjual kudzu manis. Aku turut berdiri di sampingnya.
"Yo-chan ayo kita makan kudzu."
Ajaknya sambil mendongak menatapku. Sakura-chan sangat manis ketika berusaha membujukku. Matanya yang bulat terlihat begitu berbinar.
Kamipun membeli dua kudzu manis dan duduk di bangku depan toko bersama pembeli lain. Jalanan di depan toko begitu ramai oleh pengunjung yang tengah mengantri untuk masuk ke toko dan restoran.
"Ini enak sekali, Yo-chan."
Ucapnya riang yang membuatku tak menyadari senyumku telah mengembang. Ada suatu kelegaan yang diam-diam terisi oleh kehadiran Sakura chan.
Aku tidak peduli kalau ini hanyalah ilusi. Sebab Sakura chan memang sudah tiada.
Kecelakaan yang menimpa sakura chan musim semi tahun lalu masih membekas di pikiranku. Meninggalkan perih yang cukup terasa dari musim ke musim. Selama itu pula aku sadar, bahwa rasa perih itu adalah bentuk ketidak ikhlasanku atas kepergian Sakura-chan.
Masih di daerah Naka-senbon, kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama dengan latar pohon-pohon sakura yang cantik. Aku juga tak ingin melewatkan momen yang satu ini, berfoto dengan Sakura-chan dan mencetak fotonya ketika sudah sampai rumah lalu menyimpannya dalam album foto.
Setiap detik yang berlalu, rasa-rasanya kejadian memilukan itu tidak pernah terjadi. Aku malah berharap yang sekarang terjadi bukanlah ilusi dan kecelakaan itu hanyalah bagian dari mimpi buruk semata.
"Nee, Yo-chan. Sudah lama tidak bertemu, ya." ucapnya ketika kami hampir sampai di area Shimo- senbon yang ramai.
"Un, akan tetapi, kita bisa bersama lagi, kan?" tanyaku penuh harap.
"Tidak ada lain kali, Yo-chan. Kau harus bisa mengikhlaskan aku pergi."
"Sama seperti orang-orang yang yang tidak bisa berlama-lama menikmati mekarnya Sakura."
"Jangan pergi, Sakura-chan."
Aku berjalan mendekati Sakura-chan yang menengadah membiarkan kelopak kelopak itu jatuh menerpa dirinya.
"Tidak boleh egois begitu, Yo-chan." ia menggembungkan pipinya pura-pura marah.
"Aku memang egois, Sakura chan! Kau adalah sakuraku, jadilah sakuraku selamanya. Kumohon, jangan menghilang seperti sakura lainnya."
Sakura-chan berjalan mendekat dan meraihku ke pelukannya. Aroma harumnya yang familiar menguar di penciumanku bersama kehangatan menjalar lewat pelukannya.
"Yosh...yosh, aku adalah sakuramu. Jadi, jangan menangis, Yo-chan." ucapnya sembari mengelus kepalaku lembut.
"Eto, waktuku sudah habis." Sakura-chan mengurai pelukannya. Lalu, menatapku dalam dalam.
"Selamat tinggal, Yoshino-kun."
"T-tunggu, Sakura chan!"
Sosok Sakura-chan perlahan- lahan menghilang seperti terbawa angin.
🌸
Aku bisa merasakan semilir angin menerpa wajah ketika aku membuka mata. Kulihat sekitar dan ternyata aku masih berada di kuil Yoshino Mikumari, tempatku duduk tadi.
Seperti orang linglung, aku menoleh kanan kiri mencari Sakura- chan sambil menyebut namanya. Tidak peduli dengan orang orang yang menatapku dengan gelagat aneh. Dadaku terasa sesak dengan sisa-sisa bulir air mata yang mengalir ke pipi.
Sesingkat pertemuan kami bukanlah hal yang sia-sia.
Saat perjalanan menuju kaki gunung, kembali kulihat hasil foto yang kuambil. Fotoku bersama Sakura-chan tertera di sana.
Selesai
Tentang cerita ini:
1) Kenapa aku pilih Yoshino-Yama untuk latar cerita?
➡Ada yang merekomendasikan tempat ini. Katanya bagus buat merayakan Hanami plus spot fotonya oke punya.
Di Yoshino-Yama ini juga banyak kuil. Dengan dibangunnya kuil-kuil di gunung, dipercaya akan lebih dekat dengan Kami-Sama (istilahnya Dewa)
Ada rekomendasi di Asakusa juga, sih. Cuman, aku penasarannya sama Yoshino-Yama ini😂
2) kenapa aku buat nama panggilan Okamoto Yoshino itu Yo-chan?? Dan kenapa di akhir cerita si Sakura-chan panggil Yoshino menjadi Yoshino-kun??
➡kesannya lebih cute dan deket banget gitu (Sakura x Yoshino)
➡ Terakhir... Sakura-chan manggil nama lengkap: Yoshino-kun. Biar kesannya lebih drama.
3) Cerita ini pernah dipublikasikan di wattpad dalam rangka mengikuti event bertema musim semi.

Komentar
Posting Komentar