Kamu itu angin

Kamu itu Angin

Namamu Bayu, kamu itu angin.
angin pengelana yang datang dari tempat yang jauh.
Dan aku sadar, suatu saat kamu pasti akan pergi lagi ke suatu tempat dimana kamu bisa merasa senang dan bebas.

Dan masa dimana kamu akan pergi sudah tiba. Akhir bulan November, saat tahun terakhir di sekolah menengah.

Aku sudah mengetahui rencanamu untuk pindah sekolah dari jauh-jauh hari. Banyak alasan yang membuatmu harus pindah, tetapi tak satu pun kamu ceritakan padaku. 

Oh, benar juga, aku ini bukan siapa-siapa di hidupmu.

Siang itu saat jam pulang sekolah, aku masih duduk di kelas mengamatimu berbincang-bincang dengan temanmu di ambang pintu. Rasanya, ini hanya mimpi. Aku tidak mau ini jadi kenyataan. Aku tidak rela kalau kamu pergi.  

Hari ini aku jadi sedikit egois, Bayu. 
Sebab ini tentangmu. 

"Ayo buruan ke kantin, lumayan, kan ditraktir sama si Bayu." kata Eny, teman semejaku.

Aku suka kata traktiran, tetapi tidak kali ini. Karena dengan traktiran siang ini artinya kamu sudah bersiap dengan kepindahanmu, sudah siap untuk berpamitan dengan teman-teman. Aku mendadak lemas tak bertenaga untuk sekadar melangkah ke kantin. Rasanya ingin langsung pulang saja, tetapi kalau aku pulang itu berarti aku tidak bisa melihatmu untuk terakhir kalinya.

Akhirnya, aku bersama teman semeja ku berjalan bersama ke kantin yang waktu itu sepi, hanya ada teman sekelas yang mengisi bangku-bangku di sana. Aku masih kian lekat melihatmu yang memesan makanan dan ... senyum itu tentunya.

Semangkuk soto dan segelas es teh sudah tersaji di meja. Teman-teman sudah menyantap dengan lahap duluan, sedangkan aku masih menatap makanan itu tak berselera.

Setelah selesai, satu per satu teman sekelas mengulurkan tangan untuk bersalaman denganmu. Beberapa dari mereka memberikan pesan singkat untuk perpisahan juga berpelukan. Aku sengaja memilih tempat paling akhir, tentu agar bisa lebih lama di dekatmu. Tetapi, sama saja, nantinya kamu juga akan pergi.

Itu jabatan tangan terakhir antara kamu dan aku. Aku tidak akan melupakan tangan besarmu yang hangat saat menyentuh tanganku yang kecil. Kamu tau? Aku bahkan sudah merangkai kata-kata untuk diucapkan padamu, namun akhirnya aku sama sekali tidak bisa mengaakannya.

"Aku menyukaimu," 

Salah satu dari kalimat yang kurangkai. Itu saja aku tidak bisa mengutarakannya dan aku berakhir menjadi pengecut. 

Kupikir tidak apa, aku sudah lega. Mengingat bahwa kamu itu angin pengelana yang bisa hadir dimanapun. 
Entah aku sadar atau tidak, mungkin dirimu akan hadir di sela-sela hariku.
Sewaktu bangun tidur di awal hari sampai malam ketika akan menuju tempat tidur dan memetik mimpi. 

Untukmu si Angin pengelana.







Komentar

Postingan Populer